Wednesday, 9 June 2010

Manfaat Limbah Kedelai

Biasanya, lanjut mereka, air bekas rendaman kedelai dibuang begitu saja
oleh pengusaha tempe, sebab dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis
lagi untuk diolah lebih lanjut.
Padahal, air bekas rendaman tersebut masih berguna sebagai bahan dasar
pembuatan minuman segar berupa Nata de Soya.
Minuman ini merupakan hasil fermentasi air bekas rendaman kedelai dengan
Azetobacter, di mana air limbah tersebut berfungsi sebagai media
pertumbuhan bakteri Azetobacter.
Kendati hanya sisa rendaman, air limbah tersebut diperkirakan masih
mengandung protein, karbohidrat, dan serat berlarut.
Sebagai hasil fermentasi, Nata de Soya kaya dengan kandungan serat yang
sangat baik untuk mencegah penyakit sembelit.
Manfaat lain air bekas rendaman tersebut, pengolahan limbah cair secara
biologis dengan menumbuhkan Algae (chrorella sp).
Hasil penelitian di Jepang tahun 1980, yang membandingkan antara limbah
cair kedelai, kotoran berupa lumpur, dan air daun teh pada pertumbuhan
Chlorella menunjukkan; pertumbuhan Chlorella tertinggi diperoleh pada
medium air kedelai dengan jenis Chlorella pyrenoidosa, yakni tumbuhan
renik air (Phytoplanton) berukuran sangat sedang kecil antara 3-15
mikron, bersel tunggal, berinti sel, tidak memiliki akar dan daun, serta
hidupnya mengapung.
Chlorella banyak mengandung asam lemak Omega-3 yang memiliki sifat
sangat istimewa, yakni dapat menurunkan kadar kolesterol dan
trigliserida darah, serta meningkatkan kadar lipoprotein berat jenis
tinggi (HDL) dalam darah.
Menurut para ahli gizi, kebutuhan manusia akan asam lemak Omega-3
kira-kira setara dengan 30 gram daging ikan segar per hari.
Sehingga, untuk memperoleh asam lemak Omega-3, orang tidak perlu
mengkonsumsi ikan laut, tapi cukup dengan chlorella.

Manfaat Kulit Kedelai
Pada pembuatan tempe, kulit kedelai memang harus dikupas dan tidak
diikutkan pada proses selanjutnya.
Kulit kedelai mengandung 9-16,5 persen protein, 67 persen serat, dan
kadar lignin rendah. Komposisi kandungan kulit kedelai ini bervariasi,
tergantung dari cara pengolahannya, yakni pengupasan secara manual akan
berbeda nilainya dengan cara menggunaka mesin (digiling).
Karena kandungan tersebut, kulit kedelai dimanfaatkan untuk makanan
ternak. Tambahan pula dengan kadar lignin yang rendah, kulit kedelai
dapat dicerna dengan sempurna dalam saluran pencernaan sapi, kambing,
dan babi.
Dalam studi literaturnya, Ambar dan Minta mengatakan, dalam dunia
farmasi temuan Tim Prof Dr Djojosoebagia berupa serat kasar dari kulit
kedelai menunjukkan; kedelai yang telah berhasil dihilangkan kulitnya,
tidak memiliki kemampuan menurunkan kolesterol dalam darah.
Kulit kedelai memiliki daya menurunkan kolesterol darah, kadar
trigliserida, kadar LDL (Low Density Lipoprotein), dan HDL (High Density
Lipoprotein).
Serat yang dikandung kulit kedelai dapat menghambat intensitas
penyempitan pembuluh darah, ini disebabkan karena kandungan terhadap
Campesterol, Stigmasterol, dan Beta sitosterol. Serat dalam kulit
mengandung selulosa 47 persen, dan hemiselulosa hampir 20 persen.
Selulosa ini diekstraksi dan digunakan untuk berbagai keperluan.
Hemiselulosa kulit kedelai dapat merangsang kerja IPSF (Immunoglobulin
Production Stimulating Factor) untuk menghasilkan immunoglobin pada
manusia. Immunoglobin, senyawa yang berperan terhadap kekebalan tubuh
manusia terhadap penyakit.
Pada industri kimia, kulit kedelai dimanfaatkan untuk pembuatan PCS
(Plastic Composite Support). PCS ini mengandung 35 persen kulit kedelai
dan 15 persen limbah pertanian yang lain, serta 50 persen lagi
Polipropilen.
PCS merupakan media tumbuh yang digunakan untuk proses fermentasi pada
pembuatan alkohol, dan asam laktat kulit kedelai pun dimanfaatkan
sebagai campuran pada karbon penyerap. Pada industri makanan, kulit
kedelai ini digiling menjadi tepung, dan digunakan sebagai cmpuran
pembuatan roti.
Dalam roti juga dimasukkan senyawa besi, karena senyawa besi ini penting
di dalam sel-sel jaringan, terutama di dalam haemoglobin darah, sebagai
pengangkut oksigen.
Bila senyawa besi ini kurang, biasanya akan terjadi penyakit kekurangan
darah. Roti yang dikonsumsi ini dimaksudkan untuk pengobatan penyakit
anemia (kekurangan darah). Percobaan pada tikus menunjukkan adanya
peningkatan haemoglobin (Hb) dan hemotocrit (Hct), setelah mengkonsumsi
roti tersebut.

No comments:

Post a Comment