Tuesday, 19 April 2011

PENYAKIT-PENYAKIT UNGGAS




1.   AVIAN INFLUENZA (AI)
Penyebab                    : Virus famili orthomyxoviridae
Sumber infeksi             : unggas piara, spesies unggas domestikasi yang lain, burung piara eksotik, unggas liar, hewan lain.
Tanda klinis                 : sangat bervariasi tergantung spesies, jenis kelamin, infeksi ikutan, virus yang menginfeksi, factor lingkungan dan sebagainya yaitu aktivitas menurun, konsumsi pakan menurun, emasiasi, ayam mengeram lebih lama, produksi telur menurun, gangguan pernapasan dari yang ringan sampai berat, batuk ,bersin lakrimasi yang berlebihan, sinusitis, bulu menggelapai, edema pada muka dan kepala, terdapat sianose pada kulit yang tidak berbulu, gangguan saraf dan diare.
                          Dari tanda klinis ini biasanya hanya salah satu tanda saja yang terlihat atau beberapa kombinasi. Pada kasus yang sangat cepat ayam-ayam mati tanpa tanda-tanda. Ayam sakit dalam keadaan komatose sering kepalanya menyentuh lantai.
Perubahan pasca mati   : terlihat kongesti, hemoragi, transudatif dan perubahan nekrotik pada kulit, jengger, pial.
                                    Pada penyakit berlanjut organ-organ yang lain akan terkena sering terlihat bintik kuning abu-abu pada hati, limpa, ginjal dan paru-paru.
Diagnosa                     : Dengan pemeriksaan serologi dan virologi. Spesimen berupa swab trakea dan kloaka.
Diagnosa banding        : ND, Chlamydia, Mycoplasmosis dan bakteri.
Pengendalian               : Tidak ada pengobatan yang spesifik, semua pengobatan hanya menunjang secara alam untuk melegakan alat pernapasan. Pengobatan dengan antibiotik hanya untuk mencegah efek ikutan pada infeksi bakteri dan mycoplasma.

2.   SNOT (INFECTIOUS CORYZA)
Penyebab                    : Hemophilus paragallinarum
Tanda klinis                 :    -    Konsumsi makanan, produksi telur atau pertumbuhan menurun cukup tajam.
- terlihat adnya leleran hidung dan mata yang kadang-kadang disertai mata lengket / tertutup
                               - udema muka, gangguan pernapasan dan mungkin disertai diare
                                         -      keadaan ini melanjut dengan ditemukannya beberapa penderita dengan pembengkakan sinus infra orbitalis dan / atau eksudat pada kantung konjunctiva.
       Perubahan pasca mati   : peradangan yang bersifat kataral pada saluran hidung dan sinus-sinus, seringkali disertai eksudat pada rongga hidung. Seringkali ditemukan pembengkakan muka dan kadang-kadang balung.
     Diagnosa                     : -      sejarah, gejala klinis dan lesi yang menciri bisa digunakan sebagai dasar diagnosa.
-  preparat ulas eksudat hidung harus dibuat dan diwarnai,
-  isolasi dan identifikasi organisme dari eksudat sinus
-  bisa juga dilakukan uji biologis terhadap eksudat dari sinus ayam peka
-  HI dan AGID test serum penderita
     Diagnosa banding        : mycoplasmosis, pox unggas, pasteurellosis terbatas yang bersifat kronis
     Pencegahan                 : - beli anak ayam yang bebas koriza dan pelihara dengan sanitasi ketat
-  bila ada outbreak perlu dilakukan depopulasi kemudian kandang dibersihkan dan desinfeksi, istirahatkan beberapa hari. Kemudian masukkan ayam baru yang bebas koriza
-  lakukan vaksinasi
     Pengobatan                 : beberapa preparat sulfa dan antibiotik bisa digunakan. Obat yang bisa dipakai yaitu streptomycin, erythromycin, sulfadimethoxine

3.   NEWCASTLE DISEASE (ND)
Penyebab                    : Virus Paramyxo
Penularan                    : Kontak dengan hewan sakit melalui eksudat, feses dan urine atau melalui perlengkapan kandang termasuk pakan. Penularan dari satu tempat ke tempat yang lain melalui transportasi, pekerja kandang, burung liar, angin, serangga dsb.
Tanda klinis                 : tergantung dari virulensi virus yang menulari bisa asimptomatis, gejala pernapasan ringan atau gejala pernapasan disertai gangguan syaraf atau kombinasi gangguan pernapasan dan digesti.
Perubahan pasca mati   : tergantung pada strain yang menulari yaitu berupa bintik-bintik perdarahan pada proventrikulus, nekrose pada usus, kelainan saluran pernapasan berupa rhinitis, tracheitis, laringitis, pneumonia dengan eksudat kataralis atau mukopurulenta. Kelainan syaraf berupa ensefalitis, degenerasi dan nekrose otak. Dapat pula ditemukan perdarahan berupa ptechie pada pericard, epicard, subpleura, tembolok dan usus.
Diagnosa                     : isolasi dan identifikasi dengan uji HA (hemaglutinasi) dan HI (Hemaglutinasi Inhibition)
Diagnosa banding        : Infectious bronchitis, infectious laryngotracheitis, mikoplasmosis, avian encephalomielitis.
Pengendalian               : Sanitasi kandang yang baik, anak ayam harus berasal dari peternakan yang bebas ND dan selalu dilakukan vaksinasi pada hewan-hewan yang peka.







4.   INFECTIOUS BRONCHITIS (IB)
Penyebab                    : Coronaviridae
Tanda klinis                 :        pada ayam muda penyakit IB sangat cepat ditandai dengan sulit bernapas, sedikit ngorok dari hidung dan mata keluar eksudat. Produksi telur menurun antara 10-50 %, bentuk telur abnormal, kerabang lunak atau kasar, daya tetas menurun.
Peubahan pasca mati    : trakea terlihat kemerahan mengeluarkan lendir seromukoid, kantung hawa menebal dan buram. Pada ayam petelur terdapat peritonitis akibat telur pecah dan salfingitis. Kadang-kadang ditemukan nefrosis.
Diagnosa                     : Histopatologi, Virologi

BUDIDAYA TERNAK ITIK




1.    SEJARAH SINGKAT
       Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik).

2.    SENTRA PETERNAKAN
       Secara internasional ternak itik terpusat di negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang
mempunyai musim tropis dan subtropis). Sedangkan di Indonesia ternak itik terpusatkan di daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai) dan Bali serta Lombok.

3.    J E N I S
            Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
1)  Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA;
2)  Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
3)  Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.

Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak) Ciawi, Bogor.

4.    MANFAAT
     1)    Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
2)  Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.
3)  Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
4)  Sebagai pengisi kegiatan dimasa pensiun.
5)  Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.

5.    PERSYARATAN LOKASI
       Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi lokasi jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.

6.    PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
            Sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri, terutama dalam hal pemahaman tentang pancausaha beternak yaitu (1).
Perkandangan; (2). Bibit Unggul; (3). Pakan Ternak; (4). Tata Laksana dan (5). Pemasaran Hasil Ternak.
6.1.      Penyiapan Sarana dan Peralatan
  1. Persyaratan temperatur kandang ± 39 derajat C.
  2. Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%
  3. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang
  4. Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:
a.   kandang untuk anak itik (DOD) oada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD
b.  kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok
c.   kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).
  1. Kondisi kandang dan perlengkapannya
    Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa tempat makan, tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam managemen

6.2.      Pembibitan
Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.
1)         Pemilihan bibit dan calon induk
Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik adalah sebagai berikut :
a.   membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya
b.   memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam atau mesin tetas
c.   membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat.Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.

2)         Perawatan bibit dan calon induk
a.   Perawatan Bibit
Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.
b.   Perawatan calon Induk
Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina.

3) Reproduksi dan Perkawinan
Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).

6.3.      Pemeliharaan
  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit.
  2. Pengontrol Penyakit
    Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
  3. Pemberian Pakan
    Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0–8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase.
    Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:
a.   umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)
b.   umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai
c.   umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.
d.   umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).

  1. Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga yaitu :
a.   umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
b.   umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad libitum (terus menerus)
c.   umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.
  1.  
6.      Pemeliharaan Kandang
Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada.


7.    HAMA DAN PENYAKIT
            Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:
1)  penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa
2)  penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat

Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:
1.  Penyakit Duck Cholera
Penyebab: bakteri Pasteurela avicida.
Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan.
Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.
2.  Penyakit Salmonellosis
Penyebab: bakteri typhimurium.Gejala: pernafasan sesak, mencret.
Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.

8.    P A N E N
       8.1.           Hasil Utama
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik
8.2. Hasil Tambahan
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga

9.    PASCA PANEN
            Kegiatan pascapanen yang bias dilakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak dilakukan pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk. Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:
a)  Pengawetan dengan air hangat
Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.
b)  Pengawetan telur dengan daun jambu biji
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
c)  Pengawetan telur dengan minyak kelapa
Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak berubah.
d) Pengawetan telur dengan natrium silikat
Bahan pengawetan natrium silikat merupkan cairan kental, tidak berwarna, jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama satu bulan.
e)  Pengawetan telur dengan garam dapur
Garam direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25- 40% selama 3 minggu.

10.  ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
            10.1.    Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya itik di Semarang tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1) Permodalan
a.  Modal kerja
- Anak itik siap telur um 6 bl 36 paketx500 ek x Rp 6.000
- Biaya kelancaran usaha dan lain-lain                          
Rp 108.000.000,-
Rp 4.000.000,-
b.  Modal Investasi
- Kebutuhan kandang 36 paket x Rp 500.000,-           
Rp 18.000.000,-
     Jumlah kebutuhan modal
Prasyaratan kredit yang dikehendaki:
- Bunga (menurun) 20% /tahun
- Masa tanggung angsuran 1 tahun
- Lama kredit 3 tahun                                                    Rp 130.000.000,-

2) Biaya-biaya
a.  Biaya kelancaran usaha dan lain-lain                        Rp 4.000.000,-
b.  Biaya tetap
- Biaya pengambalian kredit:
- Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun I
- Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun II
- Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun III
- Biaya penyusutan kandang:
- biaya penyusutan kandang tahun I
- biaya penyusutan kandang tahun II
- biaya penyusutan kandang tahun III                          

Rp 14.723.000,-
Rp 86.125.000,-
Rp 73.125.000,-

Rp 3.600.000,-
Rp 3.600.000,-
Rp 3.600.000,-

3) Biaya tidak tetap
a.  Biaya pembayaran ransum:
- biaya ransum tahun I
- biaya ransum tahun II
- biaya ransum tahun III                                              
Rp 245.700.000,-
Rp 453.600.000,-
Rp 453.600.000,-
b.  Biaya pembayaran itik siap produksi:
- pembayaran tahun I
- pembayaran tahun II
- pembayaran tahun III                                                
Rp 108.000.000,-
-
-
c.  Biaya pembayaran obat-obatan:
- biaya pembayaran obat-obatan tahun I
- biaya pembayaran obat-obatan tahun II
- biaya pembayaran obat-obatan tahun III
(Biaya obat-obatan adalah 1% dari biaya ransum)      
Rp 2.457.000,-
Rp 4.536.000,-
Rp 4.436.000,-

4) Pendapatan
a.  Penjualan telur tahun I                                             Rp 384.749.920,-
b.  Penjualan telur tahun II                                            Rp 615.600.000,-
c.  Penjualan telur tahun III                                          Rp 615.600.000,-
d.  Penjualan itik culling 2 x 1.425 x Rp 2.000,-           Rp 5.700.000,-

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar internasional sangat besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada. Hal ini dapat dilihat bahwa baru dua negara Thailand dan Malaysia yang menjadi negara pengekspor terbesar. Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanji untuk dikembangkan secara intensif.

Monday, 18 April 2011

PENGELOLAAN KEUANGAN BISNIS KELUARGA

 
Saat krisis 1998, banyak perusahaan besar di Indonesia tumbang. Satu pilar penopang ekonomi ketika itu adalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). UMKM sejatinya berakar dari perusahaan keluarga. Di Bangladesh, M. Yunus berhasil menggerakkan bisnis mikro yang dikelola khususnya oleh para ibu rumahtangga. Untuk keberhasilannya itu, beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 2006.
            Kendati begitu, bisnis perlu bertumbuh dan naik kelas ke jenjang berikutnya. Sayangnya, data statistik tentang keberlanjutan hidup family business / bisnis keluarga (BK) tidak terlalu menggembirakan. Menurut riset Grant Thornton, 70% BK tidak bisa bertahan melewati 1 generasi, dan 90% sudah keburu tutup sebelum tongkat estafet diserahkan ke generasi ketiga. Untuk bertahan hidup dan terus berkembang, BK perlu mengadopsi profesionalisme dalam pendekatan pengelolaan bisnisnya.
            Satu faktor penting yang sering membuat sebuah perusahaan bangkrut adalah pengelolaan keuangan yang tidak memadai. Perusahaan yang memiliki prospek jangka panjang bagus pun akan tumbang bila tidak prudent dalam mengelola keuangannya sehingga kehabisan likuiditas.
            Sisi prudent dari pengelolaan keuangan BK dimulai dengan pemisahan yang jelas antara keuangan keluarga dan keuangan perusahaan. Pasalnya, campur aduk antara uang perusahaan dan uang keluarga merupakan sumber kekacauan keuangan. Berikutnya, pemisahan ini harus diikuti pencatatan keuangan yang sesuai dengan kaidah standar akuntansi yang berlaku. Biarpun sudah dipisah, kalau ternyata catatan keuangannya tidak jelas, tetap saja akan muncul masalah yang bisa membuat perusahaan berantakan.

Kebijakan keuangan
Informasi yang muncul setelah ada pemisahan yang jelas antara keuangan keluarga dan perusahaan, serta ada pencatatan yang jelas dan mengikuti kaidah standar, merupakan input yang berharga bagi kebijakan keuangan BK. Beberapa kebijakan yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut.
            Pertama, komposisi hutang dan modal sendiri. Komposisi ini sering juga diacu sebagai struktur finansial (bila hutang mencakup hutang jangka pendek dan panjang) atau struktur modal (bila berdasarkan hutang jangka panjang saja). Besarnya komposisi hutang dibanding total modal (hutang + ekuitas atau modal sendiri) tergantung dari beberapa faktor utama, di antaranya: Profitabilitas (+), stabilitas dari arus kas (+), tangibilitas dari asset (+), tingkat suku bunga pinjaman (-), tingkat pajak pendapatan perusahaan (+), pertumbuhan ekonomi (+), dan laju inflasi (+). Tanda di dalam kurung plus ‘+’ menunjukkan hubungan searah (contoh, bila perusahaan makin tinggi profitnya, maka komposisi hutang optimalnya dibanding total modal bisa lebih ditingkatkan), sementara tanda minus ‘-‘  menunjukkan hubungan berlawanan arah (contoh, tingginya suku bunga pinjaman akan meningkatkan beban arus kas pembayaran bunga dan mempercepat perburukan rasio cakupan bunga (interest coverage ratio) sehingga tidak dianjurkan memiliki rasio hutang tinggi).
Semakin stabil arus kas, semakin tinggi pula komposisi hutang optimal di dalam permodalan. Semakin besar rasio tangible asset atau aset berwujud (gedung, mesin, mobil, dll) terhadap total asset, semakin tinggi pula komposisi hutang yang optimal, karena pemberi hutang akan mersa lebih aman dalam memberikan hutang. Sebaliknya, semakin tinggi bunga pinjaman, maka sebaiknya porsi hutang dalam permodalan dikurangi. Ekonomi yang sedang bertumbuh tinggi mengindikasikan secara umum bisnis sedang bertumbuh pesat sehingga mampu meningkatkan kapasitas berhutang. Inflasi yang tinggi, bila belum diikuti kenaikan suku bunga, menguntungkan bagi perusahaan yang berhutang terutama hutang dengan bunga tetap. Dalam situasi ini, biaya bunga tidak naik tetapi nilai riil hutang justru turun akibat inflasi.
Kedua, keseimbangan modal kerja (working capital). Modal kerja berhubungan dengan current assets (aset jangka pendek) dan current liabilities (kewajiban jangka pendek) pada neraca perusahaan. Ada beberapa cara untuk membiayai current assets. Kendati begitu, untuk keperluan manajemen risiko biasanya perlu digunakan prinsip penyepadanan (matching). Artinya, bagian dari current assets yang selalu konsisten ada (disebut permanent current assets) dianjurkan untuk dibiayai dengan hutang jangka panjang. Sementara itu, sisanya (disebut seasonal atau temporary current assets, karena bersifat musiman) dibiayai dengan hutang jangka pendek.
Ketiga, perhatikan komposisi aset tetap (fixed assets) dibandingkan total assets. Rasio fixed asset yang tinggi biasanya berimplikasi fixed cost yang tinggi. Akibatnya, Fixed asset yang berlebihan bisa membebani arus kas perusahaan bila penjualan belum stabil atau ekonomi sedang melambat. Sebaliknya, saat ekonomi sedang boom, fixed asset justru membawa dampak positif, yaitu penjualan meningkat tapi biaya relatif tetap, plus ada potensi kenaikan nilai fixed assets (terutama property) saat ekononomi boom.
Keempat, struktur biaya (fixed costs vs variable costs). Isu finansial keempat ini terkait erat dengan komposisi fixed assets dan rasio hutang. Total fixed costs bisa berasal dari fixed operational costs (yang biasanya terkait dengan fixed assets) dan dari fixed financial costs (yang terkait dengan rasio hutang).
Kelima, komposisi revenue atau penjualan. Revenue yang berasal dari repeat customers atau pelanggan/nasabah loyal memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan nasabah baru. Komposisi revenue seperti ini perlu dijaga kesimbangannya dibandingkan akuisisi pelanggan baru yang biasanya memerlukan biaya berlipat kali dibanding bisnis dari pelanggan lama.
Keenam, manajemen kas. Cash is king in business. Itu tidak diragukan lagi. Oleh karena ini pengelolaan atau manajemen kas ini perlu diperhatikan. Prinsipnya, jangan terlalu banyak menumpuk aset dalam bentuk uang tunai yang tidak memberikan bunga memadai. Namun di sisi lain, pebisnis harus hati-hati agar jangan kekurangan uang tunai saat diperlukan.  Timing dari penempatan dana kas pada instrumen investasi yang pas menjadi penting agar hasilnya optimal dn risikonya bisa tetap terkendali. Selain itu, pencegahan kebocoran akibat occupational fraud (penyalahgunaan uang dan aset perusahaan) penting dilaksanakan. Fraud bisa berdampak buruk dalam jangka pendek akibat kekurangan dana tunai, dan juga jangka panjang karena mentalitas ’korupsi’ bisa menular bagaikan kanker bila dibiarkan tanpa tindakan.
Ketujuh, kebijakan dividen (dividend policy). Kebijakan dividen, yang merupakan pembagian rejeki BK, bisa menjadi isu yang sangat sensitif, terutama bila BK sudah memasuki generasi kedua dan ketiga. Dengan semakin banyak pihak yang berkepentingan untuk mendapat rejeki berupa pembagian dividen, semakin banyak pula potensi konflik yang timbul bila kebijakan dividen tidak dikelola dengan baik. Untuk kebijakan dividen ini, pertimbangan perpajakan, kebutuhan pemegang saham, serta peluang pertumbuhan perusahaan harus dipertimbangkan secara terpadu.
Last but not least, manajemen risiko finansial secara proaktif dan terintegrasi perlu direncanakan dan diimplementasikan sangat cermat. Manajemen risiko bisa dilakukan melalui pendekatan natural hedging (penyepadanan pemasukan dan pengeluaran, baik dari sisi timing maupun mata uangnya), transfer risiko dengan instrumen seperti asuransi, ataupun menggunakan instrumen derivatif untuk proteksi harga dan posisi terbuka di masa depan.
Profesionalisme di bidang finansial bagi BK memang tidak semudah membalik telapak tangan. Itulah sebabnya survival rate BK tidak terlalu menggembirakan statistiknya. Tidak ada jalan pintas untuk melestarikan BK. Kerjakeras, kerjacerdas, kerja tuntas, dan kerjasama, serta kerja sepenuh hati, itu semua wajib hukumnya.
 Semoga teman teman yang mau berusaha mendapatkan pencerahan

Friday, 18 March 2011

memelihara itik pada masa starter





itik ataupun jenis unggas lainnya pada masa starter memang membutuhkan
penanganan khusus, karena seperti halnya manusia, pada masa bayi dia
membutuhkan perhatian super khusus, dengan perhatian khusus ini
diharapkan mampu menekan segala resiko yang akan datang dikemudian hari
termasuk hal yang paling merugikan adalah resiko kematian. pada masa
starter ini itik mengalami masa penyesuaian terhadap lingkungannya.
beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam masa starter ini antara
lain adalah :

1. pakan : pakan disini bisa berarti kualitas pakan
maupun kuantitas pakan. untuk kualitas pakan pada masa starter ini
kadar protein yang harus di asup oleh itik adalah minimal 20%, biasanya
untuk meminimkan resiko kekurangan nutrisi para peternak tidak meracik
pakannya sendiri melainkan membeli pakan jadi di poultry shop. untuk
kuantitas atau jumlah pakan yang diberikan adalah meningkat dari hari
ke hari, artinya setiap hari ada pertambahan jumlah pakan yang
diberikan bisa mulai dari 1 kg per hari per 100 ekor dan seterusnya,
untuk pakan dalam hal ini tidak boleh telat dalam pemberiannya karena
pada masa ini pertumbuhan itik berjalan sangat pesat, sehingga untuk
nutrisi yang masuk harus terpenuhi.

2. tempat makan dan minum: untuk
masa starter ini tempat makan dan minumnya harus memenuhi standart
tempat makan dan minum yang ada.

3. panjang lebar kandang: untuk
populasi itik sampai dengan 14 hari per 100 ekor idealnya membutuhkan
kandang sebesar 1 meter X 2 meter. karena jika terlalu padat
perkembangan itik akan mengalami gangguan atau itik tidak normal
perkembangan dan pertumbuhannya atau bisa dikatakan "kuntet".

4.
lantai/alas kandang: kandang untuk usia starter yang direkomendasikan
adalah kandang box panggung, jadi secara teknis kandang box panggung
memiliki tinggi paling tidak 50 cm dari tanah, dan alas kandang terbuat
dari ram- raman kawat yang mempunyai lubang tengah 1 cm, ini
dimaksudkan kotoran biar bisa keluar dan tidak nyangkut di antara
kawat.

5. suhu lingkungan sekitar: ini menjadi faktor penting
dalam pemeliharaan itik pada masa starter, karena hal ini sangat
penting untuk menentukan suhu ruang didalam kandang. jika pemeliharaan
tersebut di daerah dataran tinggi maka untuk diperlukan pemanas
kandang, jika di daerah dataran rendah, bisa cukup dengan diberikan
lampu bolam dengan daya tidak terlalu tinggi.

6. ventilasi dan
angin: pada daerah yang berangin kencang maka kandang bisa tertutup
sepenuhnya, baik sisi kiri kanan dan atas, tentunya harus diberi
sedikit ventilasi agar oksigen ruangan masih bisa mengcover seluruh
ruangan.

keenam faktor tersebut penting dalam pemeliharaan masa
starter, sedangkan untuk penjelasan lebih rinci saya akan jelaskan poin
per poin dalam artikel berikutnya.

Bebek diberi makan ganja


duck
Rouyes beralasan ganja bisa menghilangkan cacingan pada bebek
Seorang petani asal Prancis dijatuhi hukuman satu bulan tahanan dan denda 500 euro karena memberi makan bebek-bebeknya dengan ganja.
Petani bernama Michel Rouyer ini beralasan ganja yang dikonsumsi bebeknya itu akan menghilangkan cacingan yang diderita oleh ternaknya tersebut.
Kasus bebek yang diberi makan ganja ini mengemuka setelah polisi menemukan 12 tanaman ganja dan sekitar 5kg ganja kering saat mengunjungi rumah Rouyer setelah mendapat laporan pencurian di lingkungan tempat dia tinggal, di desa Gripperie-Saint-Symphorien.
Meski dinyatakan bersalah, tetapi Rouyer bersikeras metodenya ini sukses ''tidak ada cacing lagi dan bebek-bebek itu dalam kondisi kesehatan yang bagus'', kata Rouyer.
Seorang juru bicara kepolisian mengatakan kasus pemberian ganja untuk bebek ini adalah yang pertama yang pernah ditangani polisi setempat.
Selain memberi makan ganja untuk bebeknya, Rouyer mengaku dia juga merokok sebagian ganja miliknya itu.

Panduan Praktis Budidaya Itik Potong

 Tips. Peternakan itik umumnya untuk menghasilkan telur. Tetapi itik yang telah lewat masa produksinya maupun itik jantan, sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi itik potong.

Masyarakat kita, saat ini semakin menggemari daging itik/bebek. Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya rumah makan yang menyajikan nasi bebek. Akan tetapi pemenuhan kebutuhan bebek potong masih amat tradisional dan dalam bentuk bebek petelur afkir atau pejantan pejantan yang dipelihara seadanya.
Untuk memenuhi kebutuhan dan kegemaran masyarakat akan daging itik tersebut, perlu diusahakan suatu usaha peternakan itik potong yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Pengembangan dan pemeliharaan itik potong agar tercapai efisiensi pemanfaatannya menurut D.L Satie (1991), dapat menggunakan itik yang telah lewat masa produksinya maupun itik jantan. Hal ini dimaksudkan karena itik jantan mempunyai beberapa keunggulan dan keuntungan kalau ditinjau dari segi ekonomisnya.
Untuk harga bibit, itik jantan lebih murah jika dibandingkan itik betina, karena msyarakat selama ini hanya mengenal dan memetik keuntungan dari itik betina sebagai petelur.
Pemeliharaannya tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya dalam waktu 2-3 bulan sudah dapat dipetik hasilnya. Ini disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya relatif lebih baik daripada itik betina.
Berat badan sampai saat dipotong tidak kurang dari 1,5 kg. Dengan memanfaatkan itik jantan, dalam waktu yang relatif singkat sudah dapat dicapai berat yang lebih dibutuhkan. Hal ini sangat menguntungkan konsumen jika dibandingkan dengan itik afkir. Pemotongan pada umur yang relatif muda, menghasilkan daging yang lebih empuk, lebih gurih dan nilai gizinya lebih tinggi.
Kandang dan pakan
Sistem perkandangan dan pemberian pakan merupakan hal terpenting untuk melaksanakan peternakan secara intensif. Perkandangan itik potong jantan, seperti halnya ayam broiler dengan sistem kandang kering, dimana luas per ekor sekitar 0,25 m2.
Separuh bagian kandang ditutup dengan atap rumbia, genteng atau yang lainnya sebagai pelindung dan tempat istirahat. Sedangkan separuh bagian yang lain digunakan sebagai tempat untuk makan,minum atau bermain dalam bentuk kandang terbuka.
Pakan itik jantan yang disiapkan sebagai itik potong perlu diperhatikan atas periode pertumbuhannya.  Pertumbuhan itik jantan terbagi atas periode pertumbuhan awal (fase starter) dan pertumbuhan lanjut.
Untuk mencapai pertumbuhan maksimal pada fase starter, perlu ditunjang dengan pemberian pakan yang mengandung protein tinggi, yaitu berkisar antara 20-25%.
Agar tercapai nilai efisien dan ekonomis, harga pakan dapat ditekan serendah mungkin dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat, murah harganya  dan nilai gizi yang cukup tinggi.
Misalnya protein yang didapat secara murah, yakni melalui pemanfaatan limbah-limbah hasil kelautan atau tambak, daging bekicot dan lain-lain.
Bisa juga dengan menambahkan enzym-enzym pencernaan agar didapatkan pertumbuhan yang lebih cepat.PI/dw

Probiotik bagi Peternakan

Beberapa penelitian menunjukkan, penambahan probiotik mempunyai dampak positif. Salah satunya menyatakan, bahwa banyaknya kandungan mikroorganisme hidup dalam usus ternak dapat memengaruhi metabolisme dalam usus, meningkatkan populasi mikroorganisme yang menguntungkan, sehingga produktivitas ternak lebih baik.

Probiotik merupakan produk yang mengandung mikroorganisme hidup nonpatogen yang ditambahkan ke dalam pakan, yang dapat memengaruhi laju pertumbuhan, efisiensi penggunaan ransum, kecernaan bahan pakan dan kesehatan ternak melalui perbaikan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Beberapa mikroba yang berasal dari saluran pencernaan ternak unggas, terutama pada ayam pedaging dan ayam petelur, telah direkomendasikan oleh beberapa penelitian sebagai sumber probiotik yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan pertumbuhan, produksi telur, efisiensi pakan dan menghasilkan produk ternak (daging dan telur) yang rendah kolesterol, serta mengurangi bau kandang. Beberapa mikroorganisme –yang disebut EM/Effective Microorganisms- yang banyak diterapkan  dalam pertanian dan peternakan antara lain: EM-2, EM-3, EM-4, kultur kapang, kultur mikroba rumen, mikroorganisme yang diklon dengan sel pembentukan hormon. EM-2 ialah campuran lebih dari 80 spesies mikroorganisme. Bentuknya cair dengan pH 7,0 dan disimpan dalam pH 8,5. Jumlah mikroorganisme dalam kultur sangat pada mencapai 109/gr. EM-3 merupakan kultur bakteri yang terdiri dari 95% bakteri fotosintetik yang disimpan pada pH 8,5 dengan jumlah sama dengan EM-2. EM-4 merupakan mikroorganisme yang banyak digunakan bagi peternakan, karena 90% bakteri di dalamnya ialah Lactobacillus Spp. Bakteri lainnya Azotobacter, Clostridia, Enterobacter, Agrobacterium, Erwinia, Pseudomonas, dan mikroorganisme pembentuk asam laktat. Media kulturnya berbentuk cairan dengan pH 4,5. Jumlah mikroorganisme di dalamnya sama dengan EM-2 dan EM-3. Dalam bidang peternakan, arti probiotik cukup penting karena saat ini sebagian orang takut terhadap makanan yang mengandung kolesterol. Kadar kolesterol biasanya tinggi pada makanan yang kadar lemaknya tinggi. Dengan pemanfaatan probiotik, kini muncul produk ternak seperti telur rendah kolesterol, daging sapi rendah kolesterol, daging broiler bebas residu antibiotik, dan banyak lagi produk lainnya. Selain itu, banyak peternak yang memanfaatkan EM-4 dengan maksud untuk menghilangkan bau dalam kandang, dan ternyata dengan pengamatan sekilas hasilnya cukup memuaskan. Untuk mengurangi keadaan ini memang masih diperlukan penelitian yang intensif, lebih cermat dan dengan data yang terukur. Dari berbagai hasil penelitian, maka efek probiotik pada ternak secara garis besar adalah : 1) Meningkatkan laju pertumbuhan ternak potong, ayam dan babi (Fuller, 1992). Peningkatan laju pertumbuhan ini terjadi dengan menekan jumlah mikroorganisme patogen yang mengganggu pertumbuhan dalam kondisi subklinis, 2) Memperbaiki produksi susu secara kualitatif dan kuantitatif (William dan New Bold, 1990). Untuk ini mikroorganisme yang paling baik ialah kapang Saccharomyces cerevisiae dan Aspergillus oryzae, 3) Meningkatkan produksi telur baik jumlah maupun berat telurnya (Fuller, 1992), 4) Memperbaiki konversi ransum pada ayam yang diberi Enterococcus faecium (Kumprent, dkk. 1984), 5) meningkatkan kesehatan ternak (Fuller, 1992). mldz